Rabu, 10 Juni 2009
Harapan PILPRES 2009
Sebagai pengendara motor berkelana dalam siang hari yang terik sudah menjadi profesi marketing dan sales yang kujalani dengan tulus. Diakhir tahun 2007 kuputuskan keluar dari pekerjaan karena kurenungkan cukup sudah untukmu (perusahaan). Saat ini kuberjuang bersama kawan-kawan seperjuangan dengan kemampuan yang ada dan idealis membentuk karakter kami yang masih perlu ditempa. Perjalanan kumulai dengan door to door apakah itu perusahaan ataupun institusi pendidikan maupun pemerintah. Semangat dikobarkan hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun ternyata itu berproses dan pembelajaran yang terus menerus. Bersamaan ini pula krisis global datang, harga minyak melambung, perbankan amrik (biang kapitalis) rontok begitu pula dengan investasi properti berguguran.
Kurasakan perbedaan siang yang sepi, orang pasar tradisional mengeluh terjepit kiri kanan pasar modern menjangkau setiap jengkal republik ini. Tangisan orang di akhir bulan terdengar, anak-anak yang kurus kering, kurang gizi menjangkiti mereka yang tidak punya harapan.
Kudengar dari kejauhan industri tektil tutup, karyawan dirumahkan, sebagian pulang kampung tampa ujung dan pengharapan. Kudengar lagi seorang ayah membunuh istri sebelum gantung diri, tak lama kuberjalan lagi kulihat ada yang terkapar dalam perjalanan motor jatuh dan terluka. Perjuangan ....!!!!, maraknya orang berharap pada pilpres yang saat ini sedang menjadi fokus bangsa ini. Kentut dan kentut..., kedinginan kumelirik basah dengan awan yang cepat berubah.
Perjalanan ini berlanjut dengan pembagian bantuan langsung tunai, dimana orang-orang miskin mengantri di kantor pos, seolah-olah ini adalah harapan untuk menyambung hari ini dan hari berikutnya sampai habis dan kembali miskin...tanpa ada sesuatu yang diperbuat untuk berkarya. Habis sudah..................miskin berfikir menjadi miskin segalanya............................
Dan mereka bangga sebagai buah karya????
Tak jauh dari pasar yang kudatangi seorang pedagang berkata hutang bertambah barang habis, terjerat sudah kami. Temanku yang di jepang berkata manager-manager perusahaan mengantri makanan sambil menunduk malu, itu tidak terjadi di negeri ini yang katanya beragama dan bersopan santun namun pemimpin tidak memiliki kemandirian bangsa...luar biasa hutang kita dengan menerbitkan surat hutang dan lain-lain.
Diakhir ini kumencari sosok yang berani mempunyai visi dan misi yang merakyat, kuharap dia menjadi jalan menjadi sosok yang baru dengan ide-ide yang segar dan tetap melihat keragaman menjadi salah satu modal Indonesia yang berjaya di kemudian hari. Berani berkata tidak kepada dunia barat dan menghargai kemajemukan bangsa. Sitir agama saat ini sedang digunakan untuk kepentingan sesaat untuk mencapai kekuasaan sudah terlihat gerakannya.
Engkau
Engkau
Hari ini aku lelah untuk
Terlelap
Terlelap dan takut
Gelap menghantar
Bening air menetes
Ketika pelukan hadir
Rasa iba hadir
Membunuhku
Rasa cinta hadir
Kutahu salah mencintaimu
Kutahu salah menciummu
Kuingin memilikimu
Tatapan – tatapan hadir
Gairah dan gejolak
Kutinggal dan kubercinta
Wanita ini lain
Rasa dan Aroma
Berbeda...
Senyum dan Tawa
Berbeda...
Andrenalin bergejolak
Kudengar tangis
Kutersadar
Alamak
Bunga Malam
Langganan:
Postingan (Atom)